Cerita Kelam Mantan Teroris Dimata-matai Densus 88
Mantan teroris Sofyan Tsauri menceritakan kisahnya ketika dia sempat dibuntuti anggota Densus 88. Sofyan menceritakan saat dia dimata-matai dan Densus 88 sudah mempunyai data dirinya. Hal itu mengejutkan Sofyan.
Ketika saya tertangkap, mereka mempunyai data diri saya. Katanya, kita sudah ikuti kamu 24 jam, hanya ada dua yang kita tidak ikuti, ketika buang air besar dan ketika berhubungan dengan istri, ujar Sofyan saat menjadi narasumber dalam sebuah acara.
Kemudian dia melanjutkan cerita, Sofyan mengatakan Densus 88 membuntutinya saat dirinya bekerja sama dengan beberapa kelompok seperti NII, Al Qaeda, Jamaah Islamiyah dan lainnya yang berbasis teroris. Densus 88 yang kemudian memberitahukan satu per satu deretan peristiwa yang membuatnya diikuti.
Kamu ketemu di Stasiun Jatinegara, begini dan begitu. Kami terima uang sekian, itu siapa orangnya, ucap Sofyan menirukan ucapan Densus 88.
Terus ingat kembali, di Pasar Rebo kita tabrak kamu, lalu kita pegang anda, kita memastikan bahwa membawa senjata atau tidak, ucap Sofyan.
Pernah juga Densus 88 mematikan listrik di rumah, dan sempat masuk ke dalam rumahnya. Bahkan dengan sengaja mematikan listrik rumah saya, lalu ketika saya tidak di rumah, dia masuk ke rumah saya, dia periksa semuanya, sambungnya.
Rasa penasaran seorang mantan teroris kemudian terpancing. Dalam dirinya bertanya-tanya, mengapa Densus 88 tidak segera menangkapnya untuk mencegah dirinya memberi senjata ke kelompoknya? tp ini malah terus menyelidikinya.
Ternyata mereka mempunyai alasan tersendiri.
Kita berbeda dengan yang dulu. Dulu itu menggunakan UU supresif kita bisa langsung menangkap kamu. Sekarang sudah berbeda, tetap dengan pendekatan criminal justuce model, ungkap Sofyan.
Sofyan yang melihat hal ini sebagai momitmen aparat untuk tidak bertindak gegabah. Karenanya saat ini Sofyan mendukung jika RUU Antiterorisme segera diatur ulang.
Bagaimana UU ini tidak muncul teroris yang baru. Karena kalau bicara soal aspek sosial, bahwa hukum-hukum tersebut bisa menjadi dampak buruk. Kita lihat bagaimana negara Yaman, Suriah, itu karena pemerintahnya yang supresif pada waktu itu, itulah yang membuat gejolak masyarakat menjadi antipati. Kita lihat saja bagaimana UU ini bisa terukur nantinya, sambungnya.

Post a Comment