Langkah Trump Soal Yerusalem: Apa Resikonya Bagi Antiteror?
Langkah Trump Soal Yerusalem: Apa Resikonya Bagi Antiteror?
Militer ke lima AS berpatroli di kawasan teluk menjadi pengimbang bagi Iran, akan tetapi apakah para sekutu Amerika Serikat (AS) di dunia arab akan lebih berhati-hati terhadap AS?
Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel membuat kepanikan lebih dari sekedar kecaman dari sekutu Washington.
Di Bahrain, pada konferensi keamanan tahunan Dialog Manama, membuat kecemasan yang hampir universal bahwa pernyataan itu justru akan menjadi hadiah bagi sejumlah pihak tertentu di wilayah Iran dan sejumlah kelompok militan teroris seperti Al Qaeda dan ISIS.
Pemimpin AS telah menyalakan api dunia dan membiarkan para sekutu Arab menghadapi kobaran apinya, ucap Konsultan Senior di Institut Internasional, Elisabeth Marteu, Inggris.
Seorang mantan perwira Pasukan Khusus Inggris mengatakan pengumuman itu seperti melemparkan granat tangan ke sebuah ruangan dengan pin yang sudah dilepas.
Secara resmi, para pemimpin di Teluk Arab selalu mendukung hak Palestina atas tanah air mereka. Palestina selalu menjadi sumber keprihatinan yang terjadi di wilayah Timur Tengah dan merupakan subyek perjuangan Islam.
Diam-diam banyak anggota dari keluarga para pemimpin yang berusia lanjut, tidak pernah memaafkan pemerintah Palestina karena memihak kepada Saddam Hussein dalam invasi diktator Irak itu ke Kuwait pada tahun 1990.
Itu terjadi pada tahun 1991 dan sekarang banyak hal yang berbeda. Sebagian besar masyarakat di Arab terlalu mudah mengingat atau tidak peduli, pada tahun 1990 invasi terjadi, tapi mereka peduli dengan Yerusalem.
Yerusalem adalah wilayah situs suci ketiga agama dalam Islam, setelah Mekah dan Madinah, dan merupakan kawasan istimewa di hati semua orang. Apakah maknanya bagi kontra terorisme?.
Resiko yang pertama adalah mereka mungkin tidak begitu pritahun terhadap wilayah Barat tapi tidak merencanakan untuk mengungkapkannya ke dalam tindakan kekerasan.
Resiko kedua adalah seseorang yang sebelumnya bekerja sama dengan otoritas AS sekarang kurang berminat lagi untuk bekerja sama.
Mereka mungkin sja memiliki sebuah hubungan kerja dengan baik, misalnya sejawat mereka di CIA atau NSA. Tapi, di dalam benak mereka, sekarang mungkin ada kerisauan yang meluas mengenai pemerintah AS yang telah bertindak seberti ini.
Lalu ada Iran yang terus menerus menjadi lawan Arab Saudi, kekuasaan prestise di Timur Tengah. Mereka telah lama mendukung kelompok militan Israel, Hizbullah di Lebanin dan Hamas di Wilayah Palestina. Jangkauan pasukan Garda Revolusione mereka yang berada di luar negeri disebut Lasykar al Quds yang berarti Lasykar Yerusalem.
Iran selalu menggunakan Yerusalem sebagai narasi dalam mempengaruhi Arab, ini yang membantu sekutu-sekutu mereka dengan Hamas, jadi saya pikir ini permainan ini ajan jatuh ke tangan Iran, ucap Hediya Fathalla.
Armada kelima AS itu berpatroli di Teluk, memberikan bantuan kekuatan terhadap Iran, sementara itu persenjataan canggih AS merupakan peralatan utama di negara itu. Akan tetapi keputusan Donald Trump untuk menyatakan perubahan sikapnya terhadap Yerusalem adalah sebuah peringatan bagi para penguasa di sini bahwa pemerintah di AS masih bisa mempermalukan mereka.

Post a Comment