Header Ads

Bendera Israel Dibakar, Berlin Kembali Disorot Anti-Semitisme


Bendera Israel Dibakar, Berlin Kembali Disorot Anti-Semitisme

Menteri Kehakiman Heiko Maas mengatakan tidak ada tempat lagi untuk anti Semitisme di Jerman, setelah para unjuk rasa membakar bendera Israel dalam demonstrasi menentang pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Polisi menyatakan para demonstrasi menentang keras pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang diikuti 2.500 masa di Berlin, Minggu (10/12). Ada 11 penyelidikan yang telah digulirkan terkait aksi unjuk rasa tersebut, termasuk salah satu di antaranya pembakaran bendera negeri Zionis itu.

Masa unjuk rasa itu diikuti oleh ratusan ribu orang di luar Kedutaan Besar AS di Jerman, bertepatan dengan protes Hari Kemarahan yang digelar di berbagai belahan dunia. Polisi kemudian mengatakan telah menahan sekitar 10 orang dalam aksi tersebut dan mengajukan 12 dakwaan termasuk pembakaran bendera Israel.

Anti Semitisme ini masih menjadi isu yang sensitif di Berlin, lebih dari 70 tahun setelah holokaus jaman Nazi yang menewaskan 6 juta orang Yahudi. Saat ini Jerman mengaku sebagai salah satu sekutu terdekat Israel.

Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel mengatakan kepada Bild bahwa kritikan atas kebijakan pemerintah AS dapat dimengerti. Walaupun begitu, orang-orang tidak mempunyai hak atau sebuah alasan untuk membakar sebuah bendera negara, itu bisa memicu kebencian terhadap Yahudi atau mempertanyakan hak Israel mendirikan negaranya.

Dia juga mengatakan siapapun orang yang melakukan hal tersebut tidak hanya menentang negara Israel, tapi juga akan menentang konstitusi Jerman dan Jerman tidak akan mentolerir.

Menurut Gabriel, Jerman hanya akan mengizinkan demonstrasi damai dan tidak akan mengizinkan konflik di mana orang-orang bersiap untuk menggunakan kekerasan yang berasal dari luar negeri.
Diberdayakan oleh Blogger.