Header Ads

Arsip AS: Tiongkok dan Bantuan Senjata G30S 1965, Palsu


Arsip AS: Tiongkok dan Bantuan Senjata G30S 1965, Palsu

Berita bohong tidak hanya terjadi di era sekarang. Pada tahun 1965 saat terjadi tragedi pembunuhan enam jenderal dan 1 perwira TNI AD oleh Gerakan 30 September, berita palsu juga dibuat.

Berita palsu yang dimaksud antara lain terkait bantuan 30 ribu senjata api dari China seperti yang dilaporkan Angkatan Bersenjata 25 April 1966. 3 laporan berjudul, Kisah Gagalnya Coup Gestapu jang Dimasak di Peking, Rezim Peking Perintahkan Bunuh 7 Djenderal & Semua Perwira Reaksioner, dan RRT Sanggupi Pengiriman Sendjata & Perlengkapan Senjata untuk 30.000 Orang.

Laporan itu menceritakan pertemuan petinggi PKI DN Aidit dengan seorang tokoh Partai Komunis China, Mao Zedong. Dalam pertemuan itu membahas rencana untuk menggulingkan Presiden Sukarno. Untuk itu Mao Zedong menjanjikan bantuan berupa senjata api sebanyak 30 ribu ke DN Aidit.

Kudeta untuk Sukarno akan direncanakan pada 5 Oktober 1965. Akan tetapi setelah tiba di Jakarta, Aidit mendapatkan perintah dari China agar kudeta dilakukan pada 1 Oktober.

Ini adalah bagian dari seri fiktif yang jelas ditulis untuk menertawakan rezim peking, tulis kabel diplomatik Kedubes AS. Telegram rahasia tercatat dalam dokumen ke 28 file 39 1964-1968 yang di publikasikan sejak Selasa (17/10)

Masalah G30S, pada November 2008 pemerintah Tiongkok juga membuka dokumen diplomasi mereka dalam kurun waktu 1961 sampai 1965. Namun pada musim panas 2013 Kementerian Luar Negeri Luar Negeri Tiongkok menutup kembali arsip-arsip tersebut. Beruntung Taomo Zhou yang saat ini mempersiapkan disertasi di Universitas Cornell membacakan dan memanfaatkan dokumen itu.

Dalam arsipnya, Tiongkok dan G30S, Taomo Zhou menulis tentang Mao Zedong memang ingin menjunjung tinggi revolusi di Asia Tenggara, namun dia tidak sampai mengajurkan PKI untuk melancarkan perjuangan bersenjata menentang Presiden Indonesia Sukarno. Tiongkok malah mendorong PKI untuk melanjutkan kebijakan front persatuan dengan Presiden. Tujuannya adalah mengeksploitasi konfrontasi Indonesia menentang pembentukan Malaysia sebagai penyeimbang kekuatan Barat di Asia Tenggara.

Pada tahun 1965, Perdana Menteri Tiongkok Zhou En Lai menyatakan bahwa Beijing dalam posisi sebagai sekutu Indonesia, tidak akan berpangku tangan kalau imperialism Barat berani menyerang Indonesia, tulis Taomo.

Walaupun revolusi China menjadi conth yang akan diikuti oleh PKI, posisi Partai Komunis Tiongkok tetap pada pendirian bahwa perjuangan bersenjata bukan strategi yang baik di Indonesia.

Perihal janji bantuan senjata, Taomo yakin hingga G30S 1965 memanas senjata-senjata itu sebenarnya belum pernah sampai di Indonesia. Karena proses administrasinya belum tuntas dan juga perlu waktu untuk perakitan, pengepakan hingga pengangkutan dan distribusinya.

Bukti lain menunjukan, dibandingkan Tiongkok bantuan Uni Soviet kepada Indonesia lebih nyata. Jumlah bantuan senjata dari Uni Soviet kepada Indonesia sejak 1960 diperkirakan 600 ribu sampai 1,2 juta dollar.

Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam menjelaskan, fakta bahwa keterlibatan Tiongkok dan pengiriman senjata api dari China ke Indonesia adalah bohong.

Dokumen yang baru dibuka kembali memperlihatkan hal-hal yang baru. Misalnya tidak ada pengiriman senjata api ke Indonesia dan soal keterlibatan Tiongkok yang ternyata Bohong ini menarik, ungkap Asvi.
Diberdayakan oleh Blogger.